Close Friend
Hay…
namaku Nayla Vanila, nama panggilannya Nayla. Aku sekolah di International High
School di Jakarta Barat, sekolah bergengsi yang banyak diminati para remaja
kelas menengah ke atas. Sebenarnya sih dimana-dimana yang namanya Sekolah
Menengah Atas sama saja, yang berbeda mungkin dari segi kualitas pengajarnya,
dan juga iuaran sekolah perbulannya.
Aku sekarang duduk di kelas 11 Ipa, aku milih prodi ipa bukan
karena otakku yang encer tapi karena kemauan orang tuaku. Mereka pengen kelak
aku jadi dokter. Boro-boro mau jadi dokter, pelajaran biologi saja banyak
bolosnya, ya kalau gak bolos tidur kelas. Hehehe… kebiasaan buruk dari SMP,
anti biologi.
Sekarang hari pertama masuk setelah beberapa pekan liburan
semester. Dan yap… seperti biasa aku
bangun kesiangan, terlambat lagi kesekolah.
“Pak
Min, bukain gerbangnya dong ! ”, pintaku merengek.
“Waduh..
kamu ini langganan terus”, kata Pak Amin satpam sekolah.
“Yaelah..
Pak Min kan enak jadi langganan”, kataku cengegesan.
“Langganan
telat”, kata Pak Min seraya membuka pintu gerbang.
Dengan
sedikit rayuan, gerbang yang tertutup akan selalu terbuka untukku.
“Terimakasih
Pak Min, Pak Min baik deh”, godaku
“Emang
baik tiap hari buat kamu”, balas Pak Min
Baru
hari pertama sudah di hukum. Ah… dasar Bu Tika guru killer. Emang yahh gak ada
pengertiannya tuh guru. Aku di hukum berdiri di luar kelas, kaki kanan
diangkat, kedua tangan jewer telinga. Ahh.. membosankan, gak ada hukuman yang
lebih menarik yah? Hukumannya itu-itu mulu.
Koridor
sekolah sepi, aku hanya melamun menahan pegal di kaki dan tangan. Dan tiba-tiba
suara yang tak asing lagi terdengar membuyarkan lamunanku.
“Watdee
na”, seraya tersenyum memperlihatkan lesung pipinya yang membuatnya tambah
manis melebih manisnya gula.
“Watdee
krub”, jawabku spontan sambil menebar senyum yang menurutku senyum yang
termanis meski tak semanis gula.
Senyumnya
itu yang selalu membuat jantung ini terasa berhenti berdetak. Lesung pipi itu
yang membuat rasanya gula tak semanis seperti biasanya. Dia calon suami masa
depanku sedang menyapaku sekarang, meski kita tak saling mengenal.
Aku
mulai tertarik padanya sejak aku masuk SMA, tepatnya sih pas MOS (Masa
Orientasi Siswa) dia jadi ketua osis. Jadi dia cowok popular di International
High School. Karena selain dia mantan ketua osis, dia juga punya wajah yang
tampan, tubuhnya atletis seperti bintang iklan, kulitnya putih, ramah, sopan,
dan super baik. Namanya Dio, Dio La-ongmanee keturunan orang Thailand. Jadi
teringat saat dimana kebiasaan ini bermula.
###
“Hei
tengil kembaliin handphone gue!”, pintaku
“Ambil
kalau bisa”, kata Doni mengejek.
“Awass
lu ya”, kataku sambil mengejarnya.
Aku
berlari di sepanjang koridor mengejar anak tengil yang selalu membuat hariku
sial.
Dan
tiba-tiba…..
Kedubrakkk…
Aku
menamrak seorang laki-laki yang sedang keluar dari kelasnya sambil membawa
setumpukan buku kerja teman-temannya.
Aku
segera memungut buku-buku yang terjatuh, dan segera ku kembalikan padanya.
“Ehh
sorry, gue…..”.
Entah
kenapa mulutku berhenti mengeluarkan kata-kata, OMG ternyata yang kutabrak Kak
Dio mantan ketua Osis yang very very famous itu.Aku menatap wajahnya, dia
tersenyum manis melebihi manisnya gula. Ahhhh aku meleleh dibuatnya.
“Hey..”,
kata Kak Dio membuyarkan lamunanku.
“Ehhh
iya Kak, Sorry Kak. Aku gak sengaja”, jawabku sedikit malu.
“Iya
gak papa, sini bukunya”, kata Kak Dio masih dengan senyum manisnya.
“Oh
iya”. Aku menyodorkan beberapa buku kepadanya.
“Sekali
lagi maaf ya Kak”, kataku lagi.
“He’emmm”,
jawabnya dengan senyum sambil berlalu dari pandangan.
“Nay…”.
teriak Doni.
“Iya
apa?”, teriakan doni membubarkan semuanya.
“Lu
gak mau handphone lu lagi?”, tanya Doni cengegesan.
“Hehhh
ya mau lah”, kataku sambil melanjutkan aksi kejar-kejaran dengannya.
***
Kringg…..
Kringgg….
“Akhirnya
bebas juga”, kataku lega.
“Pertama
masuk sudah telat. Ngapain lo semalem, Nay? ”, tanya Mita sahabatku dari SMP.
“Kayak
lo gak pernah tau aja”, jawabku
“Ohh…
iya iya”, kata Mita mengangguk-ngangguk mencoba mencerna ucapanku.
“Ke
kantin yuk, haus ni”, ajakku
“Sama,
gue juga”, kata Mita
Aku
dan Mita capcus ke kantin sekolah, memesan se gelas es the dan mie bakso.
“Eh…
Tadi Kak Dio lewat di depan kelas ya”, tanya Mita.
“Ummmm”,
jawabku sambil mengangguk.
“Trus
trus gimana?”, Tanyanya lagi.
“Gimana
apanya?”, jawabku pura-pura tidak mengerti.
“Ceritanya”.
“Cerita
apa?”, tanyaku pura-purra lagi.
“Ihhhh…
Nayla. Tau ahhhhh”, kata Mita cemberut.
“Yaelahh
Mita.. ngambek nih?”, godaku sambil mencubit pipinya.
Mita
hanya diam, mungkin dia benar-benar ngambek kali ini. Mita salah satu dari
sekian banyak gadis yang kagum sama Kak
Dio.
“Tadi
dia lewat depan kelas dan..…..”, aku menghentikan pembicaraanku.
Aku
menoleh kea rah Mita. Terlihat wajahnya yang penasaran dengan cerita
selanjutnya, aku tersenyum dan dia membalas dengan memanyunkan mulutnya.
“Dan…….”,
kataku membuat Mita penasaran.
“Dan
apa ?”, kata mita mengkerutkan dahinya.
“Dan
seperti biasa, dia nyapa gue”, kataku sambil mengerjitkan kedua alis ku.
“Uhhhh
kenapa sih Dewi Fortuna selalu berpihak sama lo, kenapa bukan gue sih yang di
hukum tadi sama Bu Tika. Uhhh sebel sebel”, kata Mita dengan mulut penuh
makanan.
“Makanya
jangan terlalu rajin, sekali-kali telat dong”, ejekku.
“Yeeee….
Itu mah maunya lo, nyari temen.”
“Hahahaha”,
tawaku pecah.
***
Dor
dor dor
“Doni
bangun, sayang?”, kata wanita paruh baya yang tak lain ibunya Doni.
“Ahhhh
ma, sekarang kan hari minggu”, kata Doni membenahi selimutnya.
“Doni
lupa ya sama janjinya?”, tanya ibunya lagi di balik pintu.
“Hmmm
iya iya, 15 menit lagi ma”, jawab Doni tampak lesu.
“Mama
tunggu di bawah ya saying”, kata Ibu Doni seraya meninggalkan kamar Doni.
15
menit kemudian.
“Ma,
mana cup cakenya?”, tanya Doni.
“Sarapan
dulu sayang”, kata ibunya.
“Ntar
ma, kalau sudah nganterin cup cakenya”, kata Doni tersenyum.
“Ini
alamatnya, jangan lupa uangnya ya sayang”.
“Beres
ma, Doni berangkat ma”, kata Doni berlalu.
Doni
anak semata wayang Ibu Rega, wanita yang menyandang status janda sejak Doni
berumur 2 tahun. Mereka hidup berdua, dan Doni sangat disayang oleh ibunya. Ibu
Rega menghidupi kehidupannya bersama Doni dengan menjual pesanan cup cake.
“Hmmm..
bener gak sih ini rumahnya?”, tanya Doni dalam hati.
Doni
sedikit bingung, alamatnya benar, nomor rumahnya juga benar. Tapi yang Doni
ditemui bukan rumah layak huni tapi lebih mirip rumah yang sudah lama tak
berpenghuni. Gerbang rumahnya saja sudah di rambati tumbuhan-tumbuhan liar.
Rumah yang besar tapi tak terawat.
Dengan
penuh kebingungan, Doni memberanikan masuk ke rumah yang tak terawatt itu.
Bunyi gerbang yang memekakkan telinga terdengar. Rumput-rumput kering
berserakan di halaman rumah itu. Sungguh tak terawat.
Doni
memencet bel rumahnya, satu kali tak ada jawaban, dua kali tetap tak terdengar
suara siapa, tiga kali dia memencet belnya tiba-tiba ada orang yang memegang
bahunya. Tubuh Doni serasa kaku mati rasa, peluhnya bercucuran, mukanya pucat.
Dia tampak seperti mayat hidup. Doni menoleh perlahan, berharap apa yang ada di
fikirannya tak terjadi.
Terlihat
senyum kakek tua renta, menyambut tolehannya.
“Pengantar
cup cake ya nak?”, tanya kakek tua renta itu kepadanya.
“Hmm
iya, ini kek”, jawab Doni menyundurkan bungkusan yang berisi cup cake beserta
bilnya.
Kakek
tua itu menerima dengan senyum sumringah, tampaknya kekek itu sudah menantikan
pesanan cup cakenya.
“Ini
uangnya nak”, kata kakek tua seraya menyodorkan lembaran uang 50 ribu.
“Wahhh
kek, gak ada uang recehnya ya?”, tanya Doni.
“Sudah
ambil kamu saja kembaliannya’.
“Ahhh
jangan kek”. Kata Dodi menolak.
“Sudah
terima saja, anggap uang ongkosnya”. Kata kakek memaksa.
“Hmm,
gini aja kek kalau kakek mesen cup cake lagi gak usah bayar “.
“Iya
nak. Terima kasih”.
“Sama-sama
kek”.
Doni
pamit pulang kepada kakek tua itu. Sebenarnya di batinnya tersimpan banyak
pertanyaan, tapi ya sudahlah Doni tak terlalu memusingkan hal-hal aneh itu.
***
“Nay
tunggu”.
“Apa’an
sih Don?”, tanyaku.
“Pulang
bareng yuk”, ajak Doni.
“Ihhhh
pulang bareng lo, Ogahhhh”, kataku ketus seraya meninggalkannya.
“Bilang
aja, kalau sebenarnya mau cumin gengsi yang mau bilang”, ejek Doni.
“Ke-PD.an
lo mah”.
“Yalahh
harus itu”. jawabnya masih dengan PDnya.
“Sudah
sana jauh-jauh dari gue”.
“Ah
ngapain jauh-jauh dari lo, kita kan sehati gak boleh jauh-jauh”.
“Yeeee…
ngayal”.
“Hehehe..
jadi gak pulang barengnya?”. Tanya Doni.
“Gak”.
Jawabku singkat.
“Kalau
pulang bareng dapet es krim lohhhh..”.
“Es
krim?”.
“Iya”.
“Rasa
apa?”.
“Rasa
Stoberi dengan toping coklat”.
“Hmmmmm”.
“Gue
gak nawar 2 kali”. Kata Dino dengan nada sok keren.
“Ih
dasar tukang suap, ayo cepet mumpung gue gak berubah pikiran”. Ajakku menerima
tawarannya.
“Oke”.
Kata Doni sumringah.
***
Kantin sekolah tak pernah sepi, saat jam
istirahat. Tempat siswa siswi mengisi perut mereka dengan berbagai macam
makanan yang tersedia. Begitu juga denganku dan Mita, yang tak pernah bosan
nongkrong di kantin sekolah.
“Hey..”,
terdengar suara menyapa dari belakangku.
Kulihat
Mita sumringah sambil memainkan alisnya, seperti memberi isyarat padaku untuk
menoleh ke arah sumber suara itu.
Terlihat
sosok tinggi tegap tengah tersenyum dengan manisnya kepadaku dengan membawa
semangkuk mie di tangannya.
“Ehh…
iya kak”, kataku
“Boleh
gabung gak?”, tanyanya
Aku
masih terpesona dengannya, sampai lupa untuk mempersilahkannya bergabung,
dengan sedikit cubitan Mita di tanganku, aku pun sadar dan mempersilahkannya
duduk di sampingku.
“Hmm
boleh kak, duduk sini kak”. Jawabku
“Oh
ya.. kita belum kenalan, aku Dio”. Katanya sambil menjulurkan tangan ke arahku,
aku segera menyambutnya.
“Aku
Nayla, dan dia sahabatku Mita”. Jawabku sembari tersenyum.
Tanpa
Kak Dio memberitahu namanya pun, aku sudah tahu. Rasanya aku mau pingsan ada di
dekatnya. Tercium aroma parfum Kak Dio yang membuatku terbuai. Ahhh… aku mulai
gila kepadanya.
Disitulah
awal perbincangan kami, yang semula hanya menyapa satu kata saja, sekarang
banyak kata yang dilontarkan.
Semakin
hari, semakin akrab saja antara aku, Kak Dio, dan Mita.
“Eh..
Mita seandainya Kak Dio suka sama gue, lo ridho gak?”, tanya ku di sela-sela
jam pelajaran.
“Ya
ridho- ridhoin aja.” Jawabnya singkat
“Bukannya
lo juga suka sama Kak Dio?”.
“Iya
tapi itu dulu”.
“Loh
kenapa sekarang kok gak?”. Tanyaku penasaran
“Gue
lagi ngincer adek kelas”.
“What?”.
Teriakku spontan
“Hush
jangan keras-keras ntar di marahi Bu Guru”.
“Hehehe
iya maaf, habisnya gue kaget. Beneran yang lo omongin tadi?”. Tanyaku lagi
“Umm
iya”. Jawabnya dengan tersenyum.
“Idihh
lo Mit, brondong”.
“Biarin”.
Kata Mita sambil menjulurkan lida ke arahku.
***
“Eh
tumben lo gak bareng Nayla?” tanya Doni.
“Oh..
Nayla lagi jalan sama Kak Dio”, jawab Mita
“Hahh
jalan, sejak kapan mereka saling kenal?”, tanyanya lagi
“Ahhh…
kepo lo”, kata Mita sambil berlalu meninggalkanku dengan temannya.
“Sejak
kapan ya…? Dio dan Nayla saling kenal”, kata Doni dala hati
“Ahh..
kenapa aku jadi begini, ngapain aku mikirin hal gak penting seperti ini, lebih
baik aku segera mengantarkan cup cake cup cake pesanan”. Kata Doni dengan penuh
semangat.
Doni
mengayuh sepeda goesnya, menyusuri jalanan ibukota. Mengantarkan pesanan cup
cake, ke kompleks-kompleks perumahan. Yahh… beginilah setiap harinya, di
sela-sela waktu luangnya Doni sempatkan untuk membantu ibunya mengantarkan cup
cake pesanan. Doni bisa sekolah di International High School karena beasiswa,
karena baginya sekolah di International High School tanpa beasiswa hanya mimpi
yang sulit Doni gapai. Meskipun hasilnya tak seberapa dari penjulan cup cake tapi
dari cup cake inilah kebutuhan sehari-hari ibunya dan Doni bisa terpenuhi.
Sekarang hanya hobi ibunyalah yang bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari.
***
Hari
ini Kak Dio ngajak aku dinner, ihh seneng rasanya. Aku memilah memilih pakaian
yang cocok untuk aku kenakan, Kak Dio ngajak aku makan bukan pertama kalinya,
tapi sudah sering. Namun bagiku setiap kali Kak Dio ngajak makan atau jalan,
aku bisa heboh sendiri. Kali ini aku memakai celana jeans sepatu boot dan kaos
yang sangat membuatku tampak casual. Aku tak terlalu suka memakai pakaian yang
terlalu feminim, karena itu tidak menujukkan jiwaku sebenarnya.
Deru
mobil terdengar di luar rumah, aku segera keluar menghampirinya.
“Sudah
siap?”, tanya kak Dio yang tampak mengenakan kemeja biru.
“Umm
iya”. Jawabku
Kami
pun melaju, menyusuri jalanan menuju ke salah satu restoran seafood. Disana
kami makan malam dengan berbagai macam olahan seafood yang dipesan. Hmm.. Kak
Dio memang cowok pencinta makanan seafood, meskipun aku yang tidak terlalu suka
dengan olahan seafood karena aku begitu mencintai Kak Dio aku berusaha menyukai
apa yang Kak Dio sukai.
Entah
kenapa aku merasa sangat nyaman berada di dekatnya, aku dan Kak Dio semakin
dekat. Kayaknya sih… kak Dio juga suka sama aku (Hehehe ngarep). Aku memandang
wajahnya berusaha membaca apa yang sedang dipikirkannya, dia pun memandangku
dengan penuh kelembutan. Oh Tuhan, hambamu ini memang benar-benar sedang jatuh
cinta. Dia tersenyum manis memperlihatkan lesung pipinya.
“Nay…?”
kata kak Dio
“Iya
kak?”, aku berhenti memandangnya, mencoba menyembunyikan mukaku.
“Pulang
yuk”. Ajak Kak Dio
“Iya”.
Tak
banyak kata yang kami lontarkan malam ini, hanya ada tatapan-tatapan
kelembutan. Malam ini berbeda dengan yang biasanya, tak ada cerita tak banyak
bicara.
***
Dering
handphone membangunkanku dari mimpiku. Aku meraih handphone yang berada tak
jauh dari tempat tidurku. Ah.. ternyata si Mita.
“Halo”.
Kataku dengan suara khas baru bangun tidur
“Nay,
kita bisa gak ketemu di tempat biasa sekarang?”. Kata Mita di ujung telpon
“Ada
apaan sih? Aku masih ngantuk, Mit”.
“Ini
penting nay”. kata Mita dengan nada tinggi.
“Aduhhhh
Mita”.
“Gue
tunggu lo, setengah jam lagi”.
“Tapi………
Tut
tut tut tut
Telponnya
terputus, itulah kebiasaan Mita kalau sudah maunya, mau gak mau harus bilang iya.
Aku bangun dengan mata masih terkatup-katup, rasanya enggan untuk beranjak dari
tempat tidur.
***
Ku
lihat Mita tengah duduk di taman, menyembunyikan raut wajahnya. Aku
menghampirinya.
“Mit”.
Teriakku
Mita
hanya melihatku, dia tak menjawab panggilanku. Entah mengapa? Tak seperti Biasanya Mita begitu. Aku segera
mempercepat langkah kaki, kulihat semakin dekat wajah Mita semakin murung,
bahkan di matanya terdapat air yang terbendung.
“lo
kenapa Mit?”, tanyaku sambil memeluknya
“Janji
ya Nay, lo gak bakalan marah”, pinta Mita mengiba
“Emangnya
ada apa sih?”, tanyaku penasaran
“Janji
Nay, lo gak bakalan marah”, kata Mita mengulangi perkataanya
“Iya
gue janji”,
Mita
memandangku dalam-dalam, dimatanya masih terhisasi dengan bendungan air mata.
Aku mencoba menerka-nerka apa yang akan dia katakana. Tiba-tiba dia memelukku
erat, bendungan air matanya tumpah. Dia menangis terisak-isak.
“Maafin
gue nay”, kata Mita
Aku
semakin tak mengerti maksud perkataannya. Aku mencoba melepaskan pelukan Mita
dan memandangnya.
“Ada
apa sih Mit?”, tanyaku
“Gue
tau apa yang gue lakuin salah nay, gue minta maaf”. Kata Mita lagi
“Mit,
to the point aja, jangan bikin gue bingung”,
Tampak
Mita mengambil nafas dalam-dalam, aku hanya bisa memandanginya dengan hati
penasaran apa maksud dari semua perkataanya.
“Orang
tua gue ngejodohin gue sama Kak Dio”, Kata Mita
What…..
apa apaan ini? Kok bisa? Sejak kapan? Mimpi gak sih aku sekarang? Aku mencubit lengan ku sendiri, terasa sakit
bekas cubitan tadi. OMG… ini bukan mimpi, aku menundukkan kepalaku yang terasa
berat, rasanya aku ingin menjerit. Sesak
di dada terasa, sakit di hatipun kini mulai menjalar seperti dihujam pisau yang
tumpul. Aku mencoba menahan bendungan air mataku yang ingin jatuh membasahi
pipi, aku menahan sebisa mungkin. Aku menatap Mita yang dihiasi rasa bersalah,
aku mencoba tersenyum kepadanya, dan berlagak tegar.
“Ohh..
itu yang mau lo omongin”, kataku singkat
“Maafin
gue nay”, kata Mita masih dengan muka bersalahnya
Aku
memeluknya erat.
“Sudah
jangan dipikirin”, kataku
Aku melepaskan pelukanku.
“Maaf
ya nay”,
“Hustt…
ngapain sih minta maaf mulu”, kataku sambil tersenyum mencoba mencairkan
suasana.
“Gue
gak bermaksud ngambil Kak Dio dari lo”,
“Sudah,
sudah, antara aku dan Kak Dio tidak ada apa-apa, jadi gak masalah mau lo pacaran
sama kak Dio, mau lo tunangan sama kak Dio,mau lo nikah sama Kak Dio, semua itu
gak masalah karena aku dan Kan Dio memang tidak ada apa-apa, kita hanya teman
saja”, lontarku sok tegar
“Tapi
lo suka sama kak Dio kan?”,
“Gue
lebih suka ngeliat sahabat gue bahagia dan tersenyum karena gue”.
Aku
berdiri dan melihat ke pergelangan tanganku yang dilingkari arloji kado dari
Mita waktu aku ulang tahun.
“Aku
ada janji sama Doni, aku pergi dulu”. Kataku
Aku
pergi meninggalkan Mita.
“Nay…”,
teriak Mita
Aku
menoleh kearahnya, dengan senyuman di wajah.
“Terima
kasih”, kata Mita
Aku
hanya mengangguk dan berlalu meninggalkannya.
***
Air
mataku tak dapat ku bendung lagi, mengalir membasahi kedua pipiku. Aku tak tahu
apa yang harus ku lakukan sekarang. Rasanya kedua orang yang kusayang tiba-tiba
menhujamku dengan sebilah pedang. Hatiku hancur mendengar perkataan Mita tadi,
hancur menjadi partikel-partikel atom yang tak dapat aku satukan lagi. Rasa
kecewa pun hinggap menyelemutiku. Ya Tuhan… mengapa ini terjadi disaat
mimpi-mimpiku satu persatu terwujud bersama Kak Dio. Aku menyayanginya, aku
juga mencintainya Tuhan tapi mengapa jalan cintaku tak semulus jalanan aspal di
jalan raya. Aku tak tahu kemana langkah kakiku menuju, semua terasa tak ada
yang berarti lagi bagiku.
Aku
tak ingin tadi mendengar penjelasan dari Mita lebih jauh, karena hatiku tak
kuasa untuk mendengarkannya lagi. Api di hati terlalu berkobar. Sebenarnya tadi
aku tak ada janji dengan Doni, itu hanya alasanku saja untuk meninggalkannya.
Aku
harus kemana? Ke rumah Doni? Ahh…. Sebaiknya tidak, aku tak ingin dia tahu
tentang masalahku ini. Tapi aku tidak punya pilihan lain, hanya Donilah
harapanku sekarang, untuk bercerita sekedar melegakan hati ini.
Ku
ketuk pintu rumahnya, terdengar suara wanita dari balik pintu.
“Iya,
sebentar”, kata wanita di balik pintu yang tak lain adalah ibunya Doni.
Dia
membukakan pintu, terlihat wajahnya yang terkejut melihatku, mungkin dia
terkejut melihat mukaku yang lusuh dan mataku yang sembab.
“Nayla?”,
kata ibunya Doni lagi.
“Iya
tante”, jawabku lirih
“Ayo
masuk”, ajak Ibu Doni.
Dia
mempersilahkanku masuk, dan segera ku rebahkan tubuh ini di sofa lembut yang
ada di rumah Doni. Aku di suguhkan segelah minuman, kutengguk minuman yang di
suguhkan sampai habi, rasanya tenggorokanku sudah bertahun-tahun tak terlewati
air.
“Doninya
lagi nganterin pesanan cup cake, Nayla tunggu saja ya disini, tante mau kedapur
dulu”, kata Ibu Doni
“Iya
Tan”, kataku singkat.
Aku
hanya melamun, menerka-nerka alur masalah ini. Bagaimana bisa mereka
dijodohkan? Bagaimana ceritanya? Apa ini ada hubungannya dengan sikap Kak Doni
semalam, yang cenderung diam tak banyak bicara? Ah… kepalaku mulai terasa berat
lagi. Aku senderkan kepalaku di sofa, mencoba munutup mataku rapat-rapat dan
mencoba melupakan semua kejadian tadi, meskipun itu mustahil, hingga
bunga-bunga mimpi pun menghampiriku.
“Nay…Nay…..Nay..
bangun”.
Terdengar
suara lembut membangunkanku, tangannya menggoncang-goncangkan tubuhku. Aku pun
terbangun dan melihat Doni berada di sampingku. Aku tersenyum padanya, dan
masih berusaha membuka lebar-lebar mataku yang terasa berat.
“Ngapain
sih lo tiduran disini, emangnya lo gak punya rumah ya?”, tanya Doni
“Aduhh
Don”, kataku sedikit merengek
“Eh…
tunggu tunggu.. lo habis nangis ya?”, tanyanya
“Ah
sok tau lo”, kataku sambil mengampil posisi enak untuk duduk.
Aku
meregangkan otot-ototku, seperti biasanya yang orang lakukan sehabis bangun
tidur.
“Ihhh..
bukan gue sok tau, mata lo tuh bengkak”, ejek Doni sambil meninggalkanku.
“Eh
mau kemana lo, gue nungguin lo dari tadi sampai ketiduran”,
“Tidur
aja lagi, gue mau mandi, gerah”, kata Doni dari kamarnya.
Aku
pun menggeleng-gelengkan kepala. Aku tak yakin menceritakan semua masalahku
dengannya. Ya ampun, beginikah nasibku? Terburuk ataukah Terpuruk?.
Ku
lihat Doni keluar dari balik pintu kabarnya, tercium aroma parfum Doni
menyeruak.
“Lo
mandi apa cuma pakek parfum?”, tanya ku
“Mandi
tau, emang lo mandinya yang 2 jam.”, ejeknya
“Yeeee…”,
“Btw
tumben lo kesini?”,
“Hmm
gue pengen curhat”,
“Curhat?”,
katanya dengan muka tak percaya
“Tumben
lo mau curhat sama gue, emang Mita kemana?”, sambungya
“Sudahlah…
lo sudi apa kagak dengerin curhatan gue”,
“Ummm
wani piiiro?”, kata Doni sambil mengejekku
“Cibu”,
“Hahahahah…”,
tawa Doni pecah
“Gimana?”,
tanyaku
“Ummm
okelah kalau begitu”, jawabnya dengan muka sok lucu.
Doni
duduk disampingku, kulihat di antusias ingin mendengar curhatanku.
“Lo
tau kan gue suka kak Dio?”, tanyaku
“Umm”,
dia mengangguk
“Lo
juga tau kan gue sama kak Dio deket?”,
“Umm”,
dia kembali mengangguk.
“Lo
juga pasti tau gue sering jalan sama kak Dio?”,
“Ummm”,
dia menggelengkan kepala
“Ahh
sudahlah kalau lo gak tau?”,
“Ini
cerita apa quiz sih? Pertanyaan mulu dari tadi”, katanya menggaruk kepala
Aku
hanya tersenyum dibuatnya.
“Gini,
tadi Mita pagi-pagi minta ketemuan di taman. Katanya sih ada hal penting yang
mau dibicarain. Yah.. pas gue ditaman, gue sudah liat muka Mita yang tak ceria,
dan dia hampir menangis, kulihat genangan air di matanya. Dan lo tau hal
penting itu apa?”,
“Gak”,
jawab Doni singkat dengan muka polosnya
Aku
menghela napas panjang, sebelum ku lanjut ke cerita selanjutnya.
“Mita
bilang di di jodohin orang tuanya sama Kak Dio”,
“Dio?”,
tanyanya
“Umm”,
aku mengangguk sebanyak mungkin
“Wait…
intinya lo sekarang patah hati?”, tanyanya lagi
“Umm”,
sekali lagi aku mengangguk sebanyak mungkin dengan raut wajah yang sedikit
masam.
“Ahhhh…”,
Doni memukul sofa keras-keras
“Kenapa
lo?”,
“Jadi
sekarang Mita dijodohin sama Dio?”,
“i-iya”,
jawabku tak mengerti
“Huuuuhhh”,
dia menghembuskan napas panjangnya
Aku
tidak mengerti dengan Doni, aku hanya memperhatikan tingkahnya.
“Lo
tahu?”, kata Doni dengan nada tinggi mengangetkanku
Aku
hanya bisa menggelengkan kepala.
“Gue
juga patah hati”, katanya dengan nada lirih disertai dengan wajah masam yang
dia coba sembunyikan dariku.
“Hahhhh,
maksud lo, lo itu…..”,
“Hmmm
yap… betul”,
“betul??”,
“Iya
betul. Lo mau bilang kalau gue suka sama Mita kan?. Iya itu betul betul betul ,
betul 100%”, katanya menyakinkanku.
Aku
menggaruk-garuk kepalaku, mencoba mencerna semua ini.
“Sejak
kapan lo suka sama Mita?”,
“Sejak
gue kenal Mita”,
“Trus
kenapa lo gak pernah ngungkapi”,
“Nah,
itu dia.. gue terlalu takut untuk menyatakan semua perasaanku padanya, di
tambah lagi gue takut Mita nolak gue”,
“Ya..
ampun, kebetulan banget yah sama-sama patah hati dalam waktu yang sama”,
“Umm”,
***
Hujan
deras mengguyur Ibukota, malam yang dingin menemaniku dalam kesendirian. Aku
membenahi selimut, merehatkan tubuh yang lelah terbebani hari ini. Tiba-tiba
dering ponselku berbunyi, ku raih polsel yang berada tak jauh dariku. Ku lihat
sederetan huruf yang membentuk kata DIO dilayar ponselku. Aku ragu untuk mengangkat
telpon darinya, rasanya tak ingin lagi berhubungan dengannya. Ku biarkan saja,
mengabaikan telpon dari Kak Dio. Tapi lagi-lagi ponselku berbunyi, kembali ku
lihat sederetan huruf yang membentuk kata DIO dilayar ponselku. Hmmm aku meraih
ponselku ragu-ragu, dan sedikit berfikir apakah aku akan mengangkatnya atau
mengabaikannya lagi? Dan aku putuskan untuk mengangkatnya
“Halo”,
kataku
“Halo
Nay”, kata Kak Doni di ujung telpon dengan suaranya yang sangat aku kenal.
“Iya
kak”,
“Bisa
keluar sebentar Nay, aku ada di depan rumahmu”, pintanya
Jedeg..
hujan-hujan gini kak Dio ada disini, mau ngapain? Segera aku keluar dari
kamarku, menuju ke luar rumah yang ada Kak Dio disana.
Kulihat
Kak Dio basah kuyup, terkena hujan.
“Kakak
ngapain disini hujan-hujan?”, tanyaku
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar