Selasa, 24 Maret 2015



Close Friend
Hay… namaku Nayla Vanila, nama panggilannya Nayla. Aku sekolah di International High School di Jakarta Barat, sekolah bergengsi yang banyak diminati para remaja kelas menengah ke atas. Sebenarnya sih dimana-dimana yang namanya Sekolah Menengah Atas sama saja, yang berbeda mungkin dari segi kualitas pengajarnya, dan juga iuaran sekolah perbulannya.
   Aku sekarang duduk di kelas 11 Ipa, aku milih prodi ipa bukan karena otakku yang encer tapi karena kemauan orang tuaku. Mereka pengen kelak aku jadi dokter. Boro-boro mau jadi dokter, pelajaran biologi saja banyak bolosnya, ya kalau gak bolos tidur kelas. Hehehe… kebiasaan buruk dari SMP, anti biologi.
   Sekarang hari pertama masuk setelah beberapa pekan liburan semester. Dan yap… seperti  biasa aku bangun kesiangan, terlambat lagi kesekolah.
“Pak Min, bukain gerbangnya dong ! ”, pintaku merengek.
“Waduh.. kamu ini langganan terus”, kata Pak Amin satpam sekolah.
“Yaelah.. Pak Min kan enak jadi langganan”, kataku cengegesan.
“Langganan telat”, kata Pak Min seraya membuka pintu gerbang.
Dengan sedikit rayuan, gerbang yang tertutup akan selalu terbuka untukku.
“Terimakasih Pak Min, Pak Min baik deh”, godaku
“Emang baik tiap hari buat kamu”, balas Pak Min
Baru hari pertama sudah di hukum. Ah… dasar Bu Tika guru killer. Emang yahh gak ada pengertiannya tuh guru. Aku di hukum berdiri di luar kelas, kaki kanan diangkat, kedua tangan jewer telinga. Ahh.. membosankan, gak ada hukuman yang lebih menarik yah? Hukumannya itu-itu mulu.
Koridor sekolah sepi, aku hanya melamun menahan pegal di kaki dan tangan. Dan tiba-tiba suara yang tak asing lagi terdengar membuyarkan lamunanku.
“Watdee na”, seraya tersenyum memperlihatkan lesung pipinya yang membuatnya tambah manis melebih manisnya gula.
“Watdee krub”, jawabku spontan sambil menebar senyum yang menurutku senyum yang termanis meski tak semanis gula.
Senyumnya itu yang selalu membuat jantung ini terasa berhenti berdetak. Lesung pipi itu yang membuat rasanya gula tak semanis seperti biasanya. Dia calon suami masa depanku sedang menyapaku sekarang, meski kita tak saling mengenal.
Aku mulai tertarik padanya sejak aku masuk SMA, tepatnya sih pas MOS (Masa Orientasi Siswa) dia jadi ketua osis. Jadi dia cowok popular di International High School. Karena selain dia mantan ketua osis, dia juga punya wajah yang tampan, tubuhnya atletis seperti bintang iklan, kulitnya putih, ramah, sopan, dan super baik. Namanya Dio, Dio La-ongmanee keturunan orang Thailand. Jadi teringat saat dimana kebiasaan ini bermula.
###
“Hei tengil kembaliin handphone gue!”, pintaku
“Ambil kalau bisa”, kata Doni mengejek.
“Awass lu ya”, kataku sambil mengejarnya.
Aku berlari di sepanjang koridor mengejar anak tengil yang selalu membuat hariku sial.
Dan tiba-tiba…..
Kedubrakkk…
Aku menamrak seorang laki-laki yang sedang keluar dari kelasnya sambil membawa setumpukan buku kerja teman-temannya.
Aku segera memungut buku-buku yang terjatuh, dan segera ku kembalikan padanya.
“Ehh sorry, gue…..”.
Entah kenapa mulutku berhenti mengeluarkan kata-kata, OMG ternyata yang kutabrak Kak Dio mantan ketua Osis yang very very famous itu.Aku menatap wajahnya, dia tersenyum manis melebihi manisnya gula. Ahhhh aku meleleh dibuatnya.
“Hey..”, kata Kak Dio membuyarkan lamunanku.
“Ehhh iya Kak, Sorry Kak. Aku gak sengaja”, jawabku sedikit malu.
“Iya gak papa, sini bukunya”, kata Kak Dio masih dengan senyum manisnya.
“Oh iya”. Aku menyodorkan beberapa buku kepadanya.
“Sekali lagi maaf ya Kak”, kataku lagi.
“He’emmm”, jawabnya dengan senyum sambil berlalu dari pandangan.
“Nay…”. teriak Doni.
“Iya apa?”, teriakan doni membubarkan semuanya.
“Lu gak mau handphone lu lagi?”, tanya Doni cengegesan.
“Hehhh ya mau lah”, kataku sambil melanjutkan aksi kejar-kejaran dengannya.
***

Kringg….. Kringgg….
“Akhirnya bebas juga”, kataku lega.
“Pertama masuk sudah telat. Ngapain lo semalem, Nay? ”, tanya Mita sahabatku dari SMP.
“Kayak lo gak pernah tau aja”, jawabku
“Ohh… iya iya”, kata Mita mengangguk-ngangguk mencoba mencerna ucapanku.
“Ke kantin yuk, haus ni”, ajakku
“Sama, gue juga”, kata Mita
Aku dan Mita capcus ke kantin sekolah, memesan se gelas es the dan mie bakso.
“Eh… Tadi Kak Dio lewat di depan kelas ya”, tanya Mita.
“Ummmm”, jawabku sambil mengangguk.
“Trus trus gimana?”, Tanyanya lagi.
“Gimana apanya?”, jawabku pura-pura tidak mengerti.
“Ceritanya”.
“Cerita apa?”, tanyaku pura-purra lagi.
“Ihhhh… Nayla. Tau ahhhhh”, kata Mita cemberut.
“Yaelahh Mita.. ngambek nih?”, godaku sambil mencubit pipinya.
Mita hanya diam, mungkin dia benar-benar ngambek kali ini. Mita salah satu dari sekian banyak gadis yang kagum sama Kak  Dio.
“Tadi dia lewat depan kelas dan..…..”, aku menghentikan pembicaraanku.
Aku menoleh kea rah Mita. Terlihat wajahnya yang penasaran dengan cerita selanjutnya, aku tersenyum dan dia membalas dengan memanyunkan mulutnya.
“Dan…….”, kataku membuat Mita penasaran.
“Dan apa ?”, kata mita mengkerutkan dahinya.
“Dan seperti biasa, dia nyapa gue”, kataku sambil mengerjitkan kedua alis ku.
“Uhhhh kenapa sih Dewi Fortuna selalu berpihak sama lo, kenapa bukan gue sih yang di hukum tadi sama Bu Tika. Uhhh sebel sebel”, kata Mita dengan mulut penuh makanan.
“Makanya jangan terlalu rajin, sekali-kali telat dong”, ejekku.
“Yeeee…. Itu mah maunya lo, nyari temen.”
“Hahahaha”, tawaku pecah.
***
Dor dor dor
“Doni bangun, sayang?”, kata wanita paruh baya yang tak lain ibunya Doni.
“Ahhhh ma, sekarang kan hari minggu”, kata Doni membenahi selimutnya.
“Doni lupa ya sama janjinya?”, tanya ibunya lagi di balik pintu.
“Hmmm iya iya, 15 menit lagi ma”, jawab Doni tampak lesu.
“Mama tunggu di bawah ya saying”, kata Ibu Doni seraya meninggalkan kamar Doni.
15 menit kemudian.
“Ma, mana cup cakenya?”, tanya Doni.
“Sarapan dulu sayang”, kata ibunya.
“Ntar ma, kalau sudah nganterin cup cakenya”, kata Doni tersenyum.
“Ini alamatnya, jangan lupa uangnya ya sayang”.
“Beres ma, Doni berangkat ma”, kata Doni berlalu.
Doni anak semata wayang Ibu Rega, wanita yang menyandang status janda sejak Doni berumur 2 tahun. Mereka hidup berdua, dan Doni sangat disayang oleh ibunya. Ibu Rega menghidupi kehidupannya bersama Doni dengan menjual pesanan cup cake.
“Hmmm.. bener gak sih ini rumahnya?”, tanya Doni dalam hati.
Doni sedikit bingung, alamatnya benar, nomor rumahnya juga benar. Tapi yang Doni ditemui bukan rumah layak huni tapi lebih mirip rumah yang sudah lama tak berpenghuni. Gerbang rumahnya saja sudah di rambati tumbuhan-tumbuhan liar. Rumah yang besar tapi tak terawat.
Dengan penuh kebingungan, Doni memberanikan masuk ke rumah yang tak terawatt itu. Bunyi gerbang yang memekakkan telinga terdengar. Rumput-rumput kering berserakan di halaman rumah itu. Sungguh tak terawat.
Doni memencet bel rumahnya, satu kali tak ada jawaban, dua kali tetap tak terdengar suara siapa, tiga kali dia memencet belnya tiba-tiba ada orang yang memegang bahunya. Tubuh Doni serasa kaku mati rasa, peluhnya bercucuran, mukanya pucat. Dia tampak seperti mayat hidup. Doni menoleh perlahan, berharap apa yang ada di fikirannya tak terjadi.
Terlihat senyum kakek tua renta, menyambut tolehannya.
“Pengantar cup cake ya nak?”, tanya kakek tua renta itu kepadanya.
“Hmm iya, ini kek”, jawab Doni menyundurkan bungkusan yang berisi cup cake beserta bilnya.
Kakek tua itu menerima dengan senyum sumringah, tampaknya kekek itu sudah menantikan pesanan cup cakenya.
“Ini uangnya nak”, kata kakek tua seraya menyodorkan lembaran uang 50 ribu.
“Wahhh kek, gak ada uang recehnya ya?”, tanya Doni.
“Sudah ambil kamu saja kembaliannya’.
“Ahhh jangan kek”. Kata Dodi menolak.
“Sudah terima saja, anggap uang ongkosnya”. Kata kakek memaksa.
“Hmm, gini aja kek kalau kakek mesen cup cake lagi gak usah bayar “.
“Iya nak. Terima kasih”.
“Sama-sama kek”.
Doni pamit pulang kepada kakek tua itu. Sebenarnya di batinnya tersimpan banyak pertanyaan, tapi ya sudahlah Doni tak terlalu memusingkan hal-hal aneh itu.
***
“Nay tunggu”.
“Apa’an sih Don?”, tanyaku.
“Pulang bareng yuk”, ajak Doni.
“Ihhhh pulang bareng lo, Ogahhhh”, kataku ketus seraya meninggalkannya.
“Bilang aja, kalau sebenarnya mau cumin gengsi yang mau bilang”, ejek Doni.
“Ke-PD.an lo mah”.
“Yalahh harus itu”. jawabnya masih dengan PDnya.
“Sudah sana jauh-jauh dari gue”.
“Ah ngapain jauh-jauh dari lo, kita kan sehati gak boleh jauh-jauh”.
“Yeeee… ngayal”.
“Hehehe.. jadi gak pulang barengnya?”. Tanya Doni.
“Gak”. Jawabku singkat.
“Kalau pulang bareng dapet es krim lohhhh..”.
“Es krim?”.
“Iya”.
“Rasa apa?”.
“Rasa Stoberi dengan toping coklat”.
“Hmmmmm”.
“Gue gak nawar 2 kali”. Kata Dino dengan nada sok keren.
“Ih dasar tukang suap, ayo cepet mumpung gue gak berubah pikiran”. Ajakku menerima tawarannya.
“Oke”. Kata Doni sumringah.
***



 Kantin sekolah tak pernah sepi, saat jam istirahat. Tempat siswa siswi mengisi perut mereka dengan berbagai macam makanan yang tersedia. Begitu juga denganku dan Mita, yang tak pernah bosan nongkrong di kantin sekolah.
“Hey..”, terdengar suara menyapa dari belakangku.
Kulihat Mita sumringah sambil memainkan alisnya, seperti memberi isyarat padaku untuk menoleh ke arah sumber suara itu.
Terlihat sosok tinggi tegap tengah tersenyum dengan manisnya kepadaku dengan membawa semangkuk mie di tangannya.
“Ehh… iya kak”, kataku
“Boleh gabung gak?”, tanyanya
Aku masih terpesona dengannya, sampai lupa untuk mempersilahkannya bergabung, dengan sedikit cubitan Mita di tanganku, aku pun sadar dan mempersilahkannya duduk di sampingku.
“Hmm boleh kak, duduk sini kak”. Jawabku
“Oh ya.. kita belum kenalan, aku Dio”. Katanya sambil menjulurkan tangan ke arahku, aku segera menyambutnya.
“Aku Nayla, dan dia sahabatku Mita”. Jawabku sembari tersenyum.
Tanpa Kak Dio memberitahu namanya pun, aku sudah tahu. Rasanya aku mau pingsan ada di dekatnya. Tercium aroma parfum Kak Dio yang membuatku terbuai. Ahhh… aku mulai gila kepadanya.
Disitulah awal perbincangan kami, yang semula hanya menyapa satu kata saja, sekarang banyak kata yang dilontarkan.
Semakin hari, semakin akrab saja antara aku, Kak Dio, dan Mita.
“Eh.. Mita seandainya Kak Dio suka sama gue, lo ridho gak?”, tanya ku di sela-sela jam pelajaran.
“Ya ridho- ridhoin aja.” Jawabnya singkat
“Bukannya lo juga suka sama Kak Dio?”.
“Iya tapi itu dulu”.
“Loh kenapa sekarang kok gak?”. Tanyaku penasaran
“Gue lagi ngincer adek kelas”.
“What?”. Teriakku spontan
“Hush jangan keras-keras ntar di marahi Bu Guru”.
“Hehehe iya maaf, habisnya gue kaget. Beneran yang lo omongin tadi?”. Tanyaku lagi
“Umm iya”. Jawabnya dengan tersenyum.
“Idihh lo Mit, brondong”.
“Biarin”. Kata Mita sambil menjulurkan lida ke arahku.

***

“Eh tumben lo gak bareng Nayla?” tanya Doni.
“Oh.. Nayla lagi jalan sama Kak Dio”, jawab Mita
“Hahh jalan, sejak kapan mereka saling kenal?”, tanyanya lagi
“Ahhh… kepo lo”, kata Mita sambil berlalu meninggalkanku dengan temannya.
“Sejak kapan ya…? Dio dan Nayla saling kenal”, kata Doni dala hati
“Ahh.. kenapa aku jadi begini, ngapain aku mikirin hal gak penting seperti ini, lebih baik aku segera mengantarkan cup cake cup cake pesanan”. Kata Doni dengan penuh semangat.
Doni mengayuh sepeda goesnya, menyusuri jalanan ibukota. Mengantarkan pesanan cup cake, ke kompleks-kompleks perumahan. Yahh… beginilah setiap harinya, di sela-sela waktu luangnya Doni sempatkan untuk membantu ibunya mengantarkan cup cake pesanan. Doni bisa sekolah di International High School karena beasiswa, karena baginya sekolah di International High School tanpa beasiswa hanya mimpi yang sulit Doni gapai. Meskipun hasilnya tak seberapa dari penjulan cup cake tapi dari cup cake inilah kebutuhan sehari-hari ibunya dan Doni bisa terpenuhi. Sekarang hanya hobi ibunyalah yang bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari.

***

Hari ini Kak Dio ngajak aku dinner, ihh seneng rasanya. Aku memilah memilih pakaian yang cocok untuk aku kenakan, Kak Dio ngajak aku makan bukan pertama kalinya, tapi sudah sering. Namun bagiku setiap kali Kak Dio ngajak makan atau jalan, aku bisa heboh sendiri. Kali ini aku memakai celana jeans sepatu boot dan kaos yang sangat membuatku tampak casual. Aku tak terlalu suka memakai pakaian yang terlalu feminim, karena itu tidak menujukkan jiwaku sebenarnya.
Deru mobil terdengar di luar rumah, aku segera keluar menghampirinya.
“Sudah siap?”, tanya kak Dio yang tampak mengenakan kemeja biru.
“Umm iya”. Jawabku
Kami pun melaju, menyusuri jalanan menuju ke salah satu restoran seafood. Disana kami makan malam dengan berbagai macam olahan seafood yang dipesan. Hmm.. Kak Dio memang cowok pencinta makanan seafood, meskipun aku yang tidak terlalu suka dengan olahan seafood karena aku begitu mencintai Kak Dio aku berusaha menyukai apa  yang Kak Dio sukai.
Entah kenapa aku merasa sangat nyaman berada di dekatnya, aku dan Kak Dio semakin dekat. Kayaknya sih… kak Dio juga suka sama aku (Hehehe ngarep). Aku memandang wajahnya berusaha membaca apa yang sedang dipikirkannya, dia pun memandangku dengan penuh kelembutan. Oh Tuhan, hambamu ini memang benar-benar sedang jatuh cinta. Dia tersenyum manis memperlihatkan lesung pipinya.
“Nay…?” kata kak Dio
“Iya kak?”, aku berhenti memandangnya, mencoba menyembunyikan mukaku.
“Pulang yuk”. Ajak Kak Dio
“Iya”.
Tak banyak kata yang kami lontarkan malam ini, hanya ada tatapan-tatapan kelembutan. Malam ini berbeda dengan yang biasanya, tak ada cerita tak banyak bicara.

***

Dering handphone membangunkanku dari mimpiku. Aku meraih handphone yang berada tak jauh dari tempat tidurku. Ah.. ternyata si Mita.
“Halo”. Kataku dengan suara khas baru bangun tidur
“Nay, kita bisa gak ketemu di tempat biasa sekarang?”. Kata Mita di ujung telpon
“Ada apaan sih? Aku masih ngantuk, Mit”.
“Ini penting nay”. kata Mita dengan nada tinggi.
“Aduhhhh Mita”.
“Gue tunggu lo, setengah jam lagi”.
“Tapi………
Tut tut tut tut
Telponnya terputus, itulah kebiasaan Mita kalau sudah maunya, mau gak mau harus bilang iya. Aku bangun dengan mata masih terkatup-katup, rasanya enggan untuk beranjak dari tempat tidur.

***

Ku lihat Mita tengah duduk di taman, menyembunyikan raut wajahnya. Aku menghampirinya.
“Mit”. Teriakku
Mita hanya melihatku, dia tak menjawab panggilanku. Entah mengapa?  Tak seperti Biasanya Mita begitu. Aku segera mempercepat langkah kaki, kulihat semakin dekat wajah Mita semakin murung, bahkan di matanya terdapat air yang terbendung.
“lo kenapa Mit?”, tanyaku sambil memeluknya
“Janji ya Nay, lo gak bakalan marah”, pinta Mita mengiba
“Emangnya ada apa sih?”, tanyaku penasaran
“Janji Nay, lo gak bakalan marah”, kata Mita mengulangi perkataanya
“Iya gue janji”,
Mita memandangku dalam-dalam, dimatanya masih terhisasi dengan bendungan air mata. Aku mencoba menerka-nerka apa yang akan dia katakana. Tiba-tiba dia memelukku erat, bendungan air matanya tumpah. Dia menangis terisak-isak.
“Maafin gue nay”, kata Mita
Aku semakin tak mengerti maksud perkataannya. Aku mencoba melepaskan pelukan Mita dan memandangnya.
“Ada apa sih Mit?”, tanyaku
“Gue tau apa yang gue lakuin salah nay, gue minta maaf”. Kata Mita lagi
“Mit, to the point aja, jangan bikin gue bingung”,
Tampak Mita mengambil nafas dalam-dalam, aku hanya bisa memandanginya dengan hati penasaran apa maksud dari semua perkataanya.
“Orang tua gue ngejodohin gue sama Kak Dio”, Kata Mita
What….. apa apaan ini? Kok bisa? Sejak kapan? Mimpi gak sih aku sekarang?  Aku mencubit lengan ku sendiri, terasa sakit bekas cubitan tadi. OMG… ini bukan mimpi, aku menundukkan kepalaku yang terasa berat,  rasanya aku ingin menjerit. Sesak di dada terasa, sakit di hatipun kini mulai menjalar seperti dihujam pisau yang tumpul. Aku mencoba menahan bendungan air mataku yang ingin jatuh membasahi pipi, aku menahan sebisa mungkin. Aku menatap Mita yang dihiasi rasa bersalah, aku mencoba tersenyum kepadanya, dan berlagak tegar.
“Ohh.. itu yang mau lo omongin”, kataku singkat
“Maafin gue nay”, kata Mita masih dengan muka bersalahnya
Aku memeluknya erat.
“Sudah jangan dipikirin”, kataku
 Aku melepaskan pelukanku.
“Maaf ya nay”,
“Hustt… ngapain sih minta maaf mulu”, kataku sambil tersenyum mencoba mencairkan suasana.
“Gue gak bermaksud ngambil Kak Dio dari lo”,
“Sudah, sudah, antara aku dan Kak Dio tidak ada apa-apa, jadi gak masalah mau lo pacaran sama kak Dio, mau lo tunangan sama kak Dio,mau lo nikah sama Kak Dio, semua itu gak masalah karena aku dan Kan Dio memang tidak ada apa-apa, kita hanya teman saja”, lontarku sok tegar
“Tapi lo suka sama kak Dio kan?”,
“Gue lebih suka ngeliat sahabat gue bahagia dan tersenyum karena gue”.
Aku berdiri dan melihat ke pergelangan tanganku yang dilingkari arloji kado dari Mita waktu aku ulang tahun.
“Aku ada janji sama Doni, aku pergi dulu”. Kataku
Aku pergi meninggalkan Mita.
“Nay…”, teriak Mita
Aku menoleh kearahnya, dengan senyuman di wajah.
“Terima kasih”, kata Mita
Aku hanya mengangguk dan berlalu meninggalkannya.

***

Air mataku tak dapat ku bendung lagi, mengalir membasahi kedua pipiku. Aku tak tahu apa yang harus ku lakukan sekarang. Rasanya kedua orang yang kusayang tiba-tiba menhujamku dengan sebilah pedang. Hatiku hancur mendengar perkataan Mita tadi, hancur menjadi partikel-partikel atom yang tak dapat aku satukan lagi. Rasa kecewa pun hinggap menyelemutiku. Ya Tuhan… mengapa ini terjadi disaat mimpi-mimpiku satu persatu terwujud bersama Kak Dio. Aku menyayanginya, aku juga mencintainya Tuhan tapi mengapa jalan cintaku tak semulus jalanan aspal di jalan raya. Aku tak tahu kemana langkah kakiku menuju, semua terasa tak ada yang berarti lagi bagiku.
Aku tak ingin tadi mendengar penjelasan dari Mita lebih jauh, karena hatiku tak kuasa untuk mendengarkannya lagi. Api di hati terlalu berkobar. Sebenarnya tadi aku tak ada janji dengan Doni, itu hanya alasanku saja untuk meninggalkannya.
Aku harus kemana? Ke rumah Doni? Ahh…. Sebaiknya tidak, aku tak ingin dia tahu tentang masalahku ini. Tapi aku tidak punya pilihan lain, hanya Donilah harapanku sekarang, untuk bercerita sekedar melegakan hati ini.
Ku ketuk pintu rumahnya, terdengar suara wanita dari balik pintu.
“Iya, sebentar”, kata wanita di balik pintu yang tak lain adalah ibunya Doni.
Dia membukakan pintu, terlihat wajahnya yang terkejut melihatku, mungkin dia terkejut melihat mukaku yang lusuh dan mataku yang sembab.
“Nayla?”, kata ibunya Doni lagi.
“Iya tante”, jawabku lirih
“Ayo masuk”, ajak Ibu Doni.
Dia mempersilahkanku masuk, dan segera ku rebahkan tubuh ini di sofa lembut yang ada di rumah Doni. Aku di suguhkan segelah minuman, kutengguk minuman yang di suguhkan sampai habi, rasanya tenggorokanku sudah bertahun-tahun tak terlewati air.
“Doninya lagi nganterin pesanan cup cake, Nayla tunggu saja ya disini, tante mau kedapur dulu”, kata Ibu Doni
“Iya Tan”, kataku singkat.
Aku hanya melamun, menerka-nerka alur masalah ini. Bagaimana bisa mereka dijodohkan? Bagaimana ceritanya? Apa ini ada hubungannya dengan sikap Kak Doni semalam, yang cenderung diam tak banyak bicara? Ah… kepalaku mulai terasa berat lagi. Aku senderkan kepalaku di sofa, mencoba munutup mataku rapat-rapat dan mencoba melupakan semua kejadian tadi, meskipun itu mustahil, hingga bunga-bunga mimpi pun menghampiriku.
“Nay…Nay…..Nay.. bangun”.
Terdengar suara lembut membangunkanku, tangannya menggoncang-goncangkan tubuhku. Aku pun terbangun dan melihat Doni berada di sampingku. Aku tersenyum padanya, dan masih berusaha membuka lebar-lebar mataku yang terasa berat.
“Ngapain sih lo tiduran disini, emangnya lo gak punya rumah ya?”, tanya Doni
“Aduhh Don”, kataku sedikit merengek
“Eh… tunggu tunggu.. lo habis nangis ya?”, tanyanya
“Ah sok tau lo”, kataku sambil mengampil posisi enak untuk duduk.
Aku meregangkan otot-ototku, seperti biasanya yang orang lakukan sehabis bangun tidur.
“Ihhh.. bukan gue sok tau, mata lo tuh bengkak”, ejek Doni sambil meninggalkanku.
“Eh mau kemana lo, gue nungguin lo dari tadi sampai ketiduran”,
“Tidur aja lagi, gue mau mandi, gerah”, kata Doni dari kamarnya.
Aku pun menggeleng-gelengkan kepala. Aku tak yakin menceritakan semua masalahku dengannya. Ya ampun, beginikah nasibku? Terburuk ataukah Terpuruk?.
Ku lihat Doni keluar dari balik pintu kabarnya, tercium aroma parfum Doni menyeruak.
“Lo mandi apa cuma pakek parfum?”, tanya ku
“Mandi tau, emang lo mandinya yang 2 jam.”, ejeknya
“Yeeee…”,
“Btw tumben lo kesini?”,
“Hmm gue pengen curhat”,
“Curhat?”, katanya dengan muka tak percaya
“Tumben lo mau curhat sama gue, emang Mita kemana?”, sambungya
“Sudahlah… lo sudi apa kagak dengerin curhatan gue”,
“Ummm wani piiiro?”, kata Doni sambil mengejekku
“Cibu”,
“Hahahahah…”, tawa Doni pecah
“Gimana?”, tanyaku
“Ummm okelah kalau begitu”, jawabnya dengan muka sok lucu.
Doni duduk disampingku, kulihat di antusias ingin mendengar curhatanku.
“Lo tau kan gue suka kak Dio?”, tanyaku
“Umm”, dia mengangguk
“Lo juga tau kan gue sama kak Dio deket?”,
“Umm”, dia kembali mengangguk.
“Lo juga pasti tau gue sering jalan sama kak Dio?”,
“Ummm”, dia menggelengkan kepala
“Ahh sudahlah kalau lo gak tau?”,
“Ini cerita apa quiz sih? Pertanyaan mulu dari tadi”, katanya menggaruk kepala
Aku hanya tersenyum dibuatnya.
“Gini, tadi Mita pagi-pagi minta ketemuan di taman. Katanya sih ada hal penting yang mau dibicarain. Yah.. pas gue ditaman, gue sudah liat muka Mita yang tak ceria, dan dia hampir menangis, kulihat genangan air di matanya. Dan lo tau hal penting itu apa?”,
“Gak”, jawab Doni singkat dengan muka polosnya
Aku menghela napas panjang, sebelum ku lanjut ke cerita selanjutnya.
“Mita bilang di di jodohin orang tuanya sama Kak Dio”,
“Dio?”, tanyanya
“Umm”, aku mengangguk sebanyak mungkin
“Wait… intinya lo sekarang patah hati?”, tanyanya lagi
“Umm”, sekali lagi aku mengangguk sebanyak mungkin dengan raut wajah yang sedikit masam.
“Ahhhh…”, Doni memukul sofa keras-keras
“Kenapa lo?”,
“Jadi sekarang Mita dijodohin sama Dio?”,
“i-iya”, jawabku tak mengerti
“Huuuuhhh”, dia menghembuskan napas panjangnya
Aku tidak mengerti dengan Doni, aku hanya memperhatikan tingkahnya.
“Lo tahu?”, kata Doni dengan nada tinggi mengangetkanku
Aku hanya bisa menggelengkan kepala.
“Gue juga patah hati”, katanya dengan nada lirih disertai dengan wajah masam yang dia coba sembunyikan dariku.
“Hahhhh, maksud lo, lo itu…..”,
“Hmmm yap… betul”,
“betul??”,
“Iya betul. Lo mau bilang kalau gue suka sama Mita kan?. Iya itu betul betul betul , betul 100%”, katanya menyakinkanku.
Aku menggaruk-garuk kepalaku, mencoba mencerna semua ini.
“Sejak kapan lo suka sama Mita?”,
“Sejak gue kenal Mita”,
“Trus kenapa lo gak pernah ngungkapi”,
“Nah, itu dia.. gue terlalu takut untuk menyatakan semua perasaanku padanya, di tambah lagi gue takut Mita nolak gue”,
“Ya.. ampun, kebetulan banget yah sama-sama patah hati dalam waktu yang sama”,
“Umm”,

***

Hujan deras mengguyur Ibukota, malam yang dingin menemaniku dalam kesendirian. Aku membenahi selimut, merehatkan tubuh yang lelah terbebani hari ini. Tiba-tiba dering ponselku berbunyi, ku raih polsel yang berada tak jauh dariku. Ku lihat sederetan huruf yang membentuk kata DIO dilayar ponselku. Aku ragu untuk mengangkat telpon darinya, rasanya tak ingin lagi berhubungan dengannya. Ku biarkan saja, mengabaikan telpon dari Kak Dio. Tapi lagi-lagi ponselku berbunyi, kembali ku lihat sederetan huruf yang membentuk kata DIO dilayar ponselku. Hmmm aku meraih ponselku ragu-ragu, dan sedikit berfikir apakah aku akan mengangkatnya atau mengabaikannya lagi? Dan aku putuskan untuk mengangkatnya
“Halo”, kataku
“Halo Nay”, kata Kak Doni di ujung telpon dengan suaranya yang sangat aku kenal.
“Iya kak”,
“Bisa keluar sebentar Nay, aku ada di depan rumahmu”, pintanya
Jedeg.. hujan-hujan gini kak Dio ada disini, mau ngapain? Segera aku keluar dari kamarku, menuju ke luar rumah yang ada Kak Dio disana.
Kulihat Kak Dio basah kuyup, terkena hujan.
“Kakak ngapain disini hujan-hujan?”, tanyaku

***


Tidak ada komentar:

Posting Komentar